Langsung ke konten utama

Matan Jazari: Bab Muqoddimah 1


Bait ke-1

يَقُوْلُ رَا جِيْ عَفْوِ رَبٍّ سَا مِعِ     مُحَمَّدُ بْنُ الْجَزَرِيِّ الشَّافِعِي

Ibnu Al Jazary, seorang pengharap ampunan dari Allah SWT yang Maha Mengatur dan Maha Mendengar akan berkata

BIOGRAFI IBNU AL JAZARY

Ibnu Al Jazary lahir di Damaskus, Suria pada malam 25 Ramadhan 751 H dengan nama Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Yusuf. Al Jazary adalah nisbat kepada kakek-kakeknya. Al Jazary merupakan nama sebuah jazirah bernama Jazirah Ibnu Umar. Sebuah daerah jazirah yang terletak tidak jauh dari aliran sungai Dagla. Saat ini, disebut dengan Pulau Buthan. Al Syafi’i adalah mazhab fiqih yang dianutnya. Dinisbatkan kepada Imam Muhammad bin Idris As Syafi’i al Qurasyi. Nasab Imam Syafi’i sampai kepada Abdu Manaf, kakek ketiga Rosulullah SAW.

Ibnu Al Jazary berhasil menyelesaikan hafalan Al Qurannya pada usia 13 tahun. Kemudian, menjadi imam sholat pada usia 14 tahun. Ibnu Al Jazary belajar seluruh ilmu qira’at pada salah satu ulama besar qira’at di Damaskus saat itu, yakni Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Labban al Dimasyqi. Kemudian, belajar ilmu fiqih kepada Abdurrahim al Isnawi. Belajar ilmu ushul dan balaghah kepada Sa’dullah al Qazwini. Serta mendengar hadits dari sejumlah murid Ad Dimyati, al Barquhi dan Al Fakhr bin Al Bukhori. Pada usia 23 tahun, beliau diberikan izin untuk berfatwa oleh Ibnu Katsir. Pada usia 27 tahun, diberikan izin lagi untuk berfatwa oleh Syaikh Diyaauddin. Pada usia 34 tahun diberikan izin kembali untuk berfatwa oleh Syaikh Islam Al Buqini (Imam Baitul Maqdis).

Beliau mengajar Al Qur’an dan Qira’at selama beberapa tahun dibawah kubah al Nasr di Masjid Umawi, Damaskus. Beliau juga mendatangi negeri-negeri di Turki untuk mengajarkan ilmu Al Qur’an dan Qira’at. Ketika  singgah di kota Bursa, beliau disambut dan dimuliakan oleh Sultan Utsmani saat itu, yakni Bayazid Khan. Beliau mengajar ilmu qira’at dan hadits  disana selama beberapa tahun. Salah satu karya yang beliau tulis pada saat itu adalah Al Nasyr fi al Qira’at al Asyr. Hingga pada 805 H, terjadi peperangan antara Sultan Utsmani dan Timur Lenk. Peperangan itu dimenangkan oleh pihak Timur Lenk. Jika Bayazid Khan beserta klannya dijadikan sebagai tawanan perang, maka lain halnya dengan Ibnu Al Jazary. Pada saat itu, gubernur Timur Lenk bertanya,

“Anda berpihak kepada siapa?”

Ibnu Al Jazary menjawab dengan tegas,

“Saya hanyalah seorang pengajar Al Qur’an.”

Akhirnya, gubernur Timur Lenk membawa beliau ke negeri-negeri Transoxiana dan meminta beliau untuk mengajarkan ilmu Al Qur’an disana. Ibnu Al Jazary kemudian menetap di Syiraz hingga akhir hayatnya pada 5 Rabiul Awwal 833 H. Di sisa akhir hidupnya, beliau sempat melaksanakan ibadah haji pada 823 H dan menulis kitab Manzhumah al Durrah fi al Qira’at al Tsalats.

Berikut ini adalah beberapa karya Ibnu Al Jazary:

1.       Manzhumah al Muqaddimah fi Ilm al Tajwid
2.       Tahbir al Taisir fi al Qira’at al Sab’i
3.       Al Nasyr fi al Qira’at al Asyr
4.       Thayyibah an Nasyr fi al Qira’at al Asyr
5.       Al Tamhid fi al Tajwid
6.       Munjid al Muqri’in wa Mursyir al Thalibin
7.       Manzhumah al Durrah fi al Qira’at al Tsalats al Mardhiyyah
8.       Ghayah al Nihayah fi Thabaqat al Qurra’
9.       Ghayah al Maharah fi al Ziyadah ‘ala al Asyrah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Matan Jazari: Isti'adzah dan Basmalah

1.       Cara membaca isti’adzah dan basmalah pada awal surat: -           Waqaf di semua tempat (isti’adzah, basmalah dan awal surat) -           Washal di semua tempat -           Washal di isti’adzah dna basmalah, kemudian qotho’ di awal surat -           Memisahkan isti’adzah dengan basmalah, lalu meyambung basmalah dengan awal surat Tertulis dalam Taqribal Ma’ani Syarah Hizual Amani: إ ِذَا مَا أَوَدْتَ الدَّهْرَ تَقْرَأَ فَسْتَعِذْ     جِهَا رَأَ مِنَ الشَّيْطاَنِ بِا للهِ مُسْجَلآ عَلَي مَا أَتَي فِي النَّحْلِ يُسْرَأَ وَإِنْ تَزِدْ      لِرَبِّكَ تَنْزِيْهَا فَلَسْتَ مُجَهَّلآَ وَقَدْ ذَكَرُ وْا لَفْظُ الرَّسُوْلِ فَلَمْ يَزِدْ      وَلَوْ مَعَ هَذَا لنَّقْلُي لَمْ يُبْقِ مُجْمَلاَ Qurra’ ...

Matan Jazari: Pembagian Huruf dalam Ilmu Tajwid

Menurut Imam Ath Thiby dalam matannya bahwa huruf terbagi menjadi 3 macam, yakni: وَاسْتَعْمَلُوْأَيْضًا حُرُوْفَا زَائِدَةْ     عَليَ الَّذِي قَدَّمَتْهُالْفَائِدَةْ كَقَصْدِ تَخْفِيْفَ وَقَدْ تَفَزَّفَتْ     مِنْ تِلْكَ كَالْهَمْزَةَ حِيْنَ سُهِّلَتْ 1.       Huruf Ma’ani Huruf ma’ani adalah huruf yang memiliki makna meskipun berdiri sendiri. Contoh: وَ, بِ, لاَ 2.      Huruf Mabani Huruf mabani adalah huruf yang akan memiliki makna jika digabungkan dengan huruf lainnya. Contoh: قَ + لَ = قَلَ Huruf mabani, terbagi menjadi 2 macam, yakni: ü   Huruf Ashli Huruf ashli adalah huruf yang memiliki bunyi dan bentuk. Huruf ashli ini terbagi lagi menjadi 2 macam: ·          Huruf Hija’i Huruf hija’i adalah huruf yang bisa ditulis semua tapi tidak bisa dibaca seluruhnya. Dalam hal ini, huruf alif ( ا ) dan hamzah ( ء ) adalah...

Matan Jazari: Lahn

Lahn secara bahasa adalah kesalahan. Secara istilah adalah kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam membaca Al Qur’an, baik dari segi i’rob maupun tajwidnya. Ada dua jenis lahn, yakni: 1.        Lahn Jalli Lahn Jalli adalah kesalahan yang terjadi pada kata-kata didalam Al Qur’an, baik yang mengubah makna maupun tidak. Lahn jenis ini dapat diketahui oleh semua orang yang mendengarnya. Lahn Jalli terbagi menjadi beberapa jenis: a.        Lahn Jalli didalam Huruf Ada beberapa macam, yakni: -           Tertukarnya satu huruf satu dengan huruf lainnya. Contoh: عِيْشَةً رَا ض ِيَة menjadi عِيْشَةً رَا دِ يَة -           Menambahkan huruf dalam satu kata. Contoh: وَلِتَ سْ ئَلُوْنَ menjadi وَلِتَ سَ ئَلُوْنَ -           Mengurangi huruf dalam satu kata. Contoh: و َل َتَمُوْا ت...